Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Obrolan Tetangga


 

Obrolan Tetangga

Oleh: Yayat Suyatna

“Kalau tetangga sudah jarang ngobrol, biasanya bukan karena tidak kenal. Tapi karena terlalu sibuk dengan dunia masing-masing.”

Dulu, suara obrolan tetangga itu seperti musik sore hari.

Ada yang ngobrol sambil nyapu halaman.

Ada yang tertawa kecil di warung kopi.

Ada ibu-ibu yang saling tukar lauk.

Ada bapak-bapak yang membahas hujan, harga cabai, sampai mimpi tentang anak-anaknya.

Sederhana. Tapi hangat.

Sekarang, rumah makin bagus, pagar makin tinggi, internet makin cepat… namun banyak hati justru makin jauh.

Kadang kita lebih tahu kehidupan artis di media sosial daripada kabar orang yang rumahnya hanya beda dua pintu.

Padahal saat listrik mati, saat sakit datang, atau saat musibah terjadi… yang pertama mengetuk pintu sering kali justru tetangga.

Obrolan tetangga sebenarnya bukan sekadar basa-basi.

Ia adalah tanda bahwa manusia masih punya rasa peduli.

Dari obrolan kecil lahir banyak hal: rasa aman, saling percaya, bahkan persaudaraan.

Mungkin dunia memang berubah. Orang-orang makin sibuk mengejar hidup.

Namun jangan sampai kita kehilangan kemampuan paling sederhana: menyapa.

Karena kadang, seseorang tidak butuh solusi. Ia hanya butuh didengar sebentar oleh tetangganya sendiri.

Maka kalau besok pagi bertemu tetangga, jangan hanya menunduk melihat layar ponsel.

Cobalah tersenyum dan berkata: “Sehat, Pak?” “Sehat, Bu?”

Barangkali kalimat sederhana itu bisa menghangatkan hati seseorang yang sedang dingin menghadapi hidup.

“Tidak semua kebaikan harus besar. Kadang cukup menjadi tetangga yang masih mau menyapa.”

pikiranyayat.com