Sandal Sang Kiyai : Ketika Ada Kiyai yang Tergelincir
Oleh: Yayat Suyatna
Di depan masjid itu, sandal sang kiyai masih tersusun rapi. Sandal sederhana yang dulu begitu dihormati para santri. Yang langkahnya pernah diikuti. Yang suaranya pernah menjadi penenang banyak hati.
Tetapi hari ini, orang-orang mulai berbisik pelan. Bukan tentang ilmunya. Bukan tentang ceramahnya. Melainkan tentang dirinya yang tergelincir.
Dan ternyata, jatuhnya seorang tokoh agama tidak pernah sederhana. Karena yang runtuh bukan hanya nama seseorang, tetapi juga harapan banyak orang. Ada santri yang kecewa. Ada jamaah yang kehilangan arah. Ada anak muda yang mulai bertanya: “Jika yang berilmu saja bisa jatuh, lalu bagaimana dengan kami?”
Dalam sunyi seperti itu, kita belajar satu hal penting: bahwa manusia tetaplah manusia. Setinggi apa pun ilmunya, setebal apa pun sorbannya, selembut apa pun ceramahnya, ia tetap memiliki hawa nafsu dan kelemahan.
Dalam ruh Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa penyakit hati sering datang diam-diam. Bukan langsung menjadi besar, tetapi tumbuh perlahan. Dari rasa ingin dipuji. Merasa diri lebih suci. Terlalu menikmati penghormatan manusia. Lalu lupa menjaga dirinya sendiri.
Karena terkadang yang paling berbahaya bukan dosa besar yang datang tiba-tiba, tetapi dosa kecil yang dibiarkan hidup terlalu lama. Ada orang yang kuat menghadapi kemiskinan, tetapi kalah menghadapi pujian. Ada yang mampu menahan lapar, tetapi tidak mampu menahan pandangan. Ada yang pandai mengajarkan kesabaran, tetapi gagal menjaga kesunyian hatinya sendiri.
Dan mungkin di situlah ujian seorang kiyai sebenarnya. Bukan ketika ia berceramah di depan ribuan orang, tetapi ketika ia sendirian dengan dirinya sendiri.
Namun tulisan ini bukan untuk menghina ulama. Karena kita semua juga sedang berjuang melawan diri masing-masing. Hanya saja, dosa sebagian orang ditutup Allah, sementara dosa sebagian lainnya diperlihatkan kepada manusia.
Maka jangan terlalu cepat merasa paling suci. Hari ini kita menyadari: bahwa ilmu saja ternyata tidak cukup. Manusia juga membutuhkan keikhlasan, rasa takut kepada Allah, dan hati yang terus dibersihkan. Sebab ketika hati mulai merasa aman dari dosa, di situlah kehancuran sering dimulai.
Masyarakat juga perlu belajar agar tidak berlebihan mengkultuskan manusia. Hormati ulama, cintai guru agama, tetapi jangan menempatkan manusia seolah tidak mungkin salah. Karena kesempurnaan hanya milik Allah.
Dan seorang kiyai, pada akhirnya, tetaplah manusia yang bisa lelah, bisa salah, dan bisa tergelincir. Yang harus kita jaga adalah: jangan sampai kesalahan manusia membuat kita membenci agamanya. Sebab agama tetap suci, meski manusianya kadang gagal menjaga diri.
Di depan masjid itu, sandal sang kiyai masih tetap ada. Tetapi mungkin hari ini, kita belajar: bahwa yang paling penting bukan sandal siapa yang kita ikuti, melainkan ke mana langkah kaki kita sendiri akan dibawa.
“Ada manusia yang dihormati karena ilmunya, tetapi tetap jatuh karena tidak menjaga hatinya.”
pikiranyayat.com
