Kaos Oblong Pak RT
Tentang pemimpin yang tetap sederhana meski dihormati banyak orang
Oleh: Yayat Suyatna
Pagi itu gang kecil masih basah oleh sisa hujan semalam.
Anak-anak berangkat sekolah.
Ibu-ibu menyapu halaman.
Dan di ujung jalan, terlihat Pak RT sedang duduk di warung kopi.
Bukan memakai jas.
Bukan pakaian dinas.
Hanya kaos oblong lusuh, celana santai, dan sandal jepit yang warnanya mulai pudar.
Tetapi setiap orang yang lewat tetap menyapa hormat.
“Pagi Pak RT…”
“Sehat Pak…”
“Makasih ya kemarin sudah bantu urusan surat…”
Pak RT hanya tersenyum kecil sambil mengaduk kopi hitamnya.
Ia memang bukan orang kaya.
Rumahnya biasa saja.
Motornya tua.
Bahkan kadang ia ikut ronda sambil membawa termos kopi sendiri.
Namun anehnya, warga merasa dekat dengannya.
Karena ia hadir bukan saat kamera datang.
Tetapi saat warga kesusahan.
Ketika ada tetangga sakit, ia datang lebih dulu.
Saat ada anak muda bertengkar, ia yang menenangkan.
Saat ada warga meninggal, ia ikut mengangkat kursi dan tikar.
Tanpa banyak pidato.
Suatu hari ada tamu dari kota datang ke kampung itu.
Ia tampak bingung melihat Pak RT yang sedang membersihkan selokan memakai kaos oblong.
“Yang benar ini Pak RT?” tanyanya heran.
Warga tersenyum.
“Iya. Memang kenapa?”
Tamu itu pelan berkata, “Saya kira pemimpin itu harus terlihat mewah.”
Seorang bapak tua yang mendengar percakapan itu lalu menjawab:
“Kalau hanya ingin terlihat hebat, banyak orang bisa melakukannya. Tapi kalau mau benar-benar hadir untuk rakyat kecil, itu yang sulit.”
Gang kecil itu mendadak terasa hening.
Kadang manusia terlalu sibuk menilai pakaian, sampai lupa melihat isi hati.
Padahal kehormatan seseorang tidak selalu lahir dari jas mahal.
Kadang justru lahir dari kaos oblong yang penuh keringat pengabdian.
Dan sejak itu, banyak anak muda di kampung mulai mengerti:
Pemimpin sejati bukan yang paling tinggi duduknya.
Tetapi yang paling rendah hatinya.
Karena jabatan bisa membuat orang dihormati sementara.
Tetapi ketulusan membuat seseorang dikenang lebih lama.
“Kesederhanaan sering kali lebih berwibawa daripada kemewahan yang dipaksakan.”
pikiranyayat.com
Tidak sekadar dibaca, tapi dirasakan.
