Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Numpak Sisingaan






 Kenangan Waktu Kecil Naik Sisingaan

Oleh: Yayat Suyatna

Bagi anak-anak Sunda, terutama di tanah Subang, naik sisingaan bukan sekadar duduk di atas boneka singa yang dipikul ramai-ramai. Ada kebanggaan, kegembiraan, dan kenangan yang sulit dilupakan.

Saya masih ingat ketika kecil melihat iring-iringan sisingaan datang dari kejauhan. Suara kendang mulai terdengar, orang-orang berkerumun di pinggir jalan, dan anak yang duduk di atas sisingaan menjadi pusat perhatian. Rasanya seperti seorang raja kecil yang sedang diarak.

Saat akhirnya mendapat kesempatan naik sisingaan, jantung berdebar antara senang dan takut. Ketika para pengusung mulai berlari, menggoyangkan sisingaan ke kanan dan ke kiri, tangan ini erat memegang pegangan. Di bawah, teman-teman melambaikan tangan sambil tersenyum iri.

Kini, setelah dewasa, saya sadar bahwa sisingaan bukan hanya hiburan. Ia adalah warisan budaya yang mengajarkan keberanian, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Kenangan itu mungkin sudah puluhan tahun berlalu. Para pengusungnya mungkin telah menua. Teman-teman sepermainan pun telah menempuh jalan hidup masing-masing. Namun suara kendang, sorak penonton, dan rasa bangga saat duduk di atas sisingaan masih tersimpan rapi dalam ingatan.

Kadang hidup yang semakin rumit membuat kita rindu pada masa-masa sederhana itu. Masa ketika kebahagiaan cukup hadir lewat sebuah arak-arakan kampung dan senyum orang-orang di sekitar.

"Kita mungkin telah tumbuh dewasa, tetapi ada kenangan masa kecil yang tetap hidup selamanya. Salah satunya adalah saat naik sisingaan."

— pikiranyayat.com