Renungan Kehidupan: Saat Kematian Tiba
Ada saatnya kita harus meninggalkan semua yang selama ini kita perjuangkan. Rumah yang kita bangun, jabatan yang kita banggakan, harta yang kita kumpulkan, bahkan orang-orang yang paling kita cintai.
Kematian mengajarkan bahwa tidak semua yang kita miliki akan ikut pergi bersama kita.
Dalam pandangan filsafat, kematian adalah pengingat bahwa waktu kita terbatas. Kaum Stoa mengajarkan agar kita tidak terlalu terikat pada sesuatu yang fana, melainkan menggunakan waktu yang tersisa untuk hidup dengan bijaksana, berbuat baik, dan menjaga kehormatan diri.
Dalam pandangan Islam, kematian bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan pintu menuju kehidupan akhirat. Allah SWT berfirman:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali 'Imran: 185)
Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah berapa lama kita hidup, berapa tinggi jabatan kita, atau berapa banyak harta yang kita tinggalkan. Yang lebih penting adalah berapa banyak kebaikan yang kita tanam, berapa banyak hati yang kita jaga, dan seberapa siap kita menghadap Allah SWT.
Kita sering sibuk menyiapkan masa depan, tetapi lupa menyiapkan kepulangan. Kita menghitung kekayaan, tetapi jarang menghitung amal. Kita takut kehilangan dunia, tetapi terkadang lupa bahwa dunia memang tidak pernah benar-benar menjadi milik kita.
Maka, selagi napas masih ada, mintalah maaf sebelum terlambat. Berbuat baiklah sebelum kesempatan berakhir. Sayangilah keluarga sebelum perpisahan datang. Dan dekatkanlah diri kepada Allah sebelum kita dipanggil pulang.
Sebab, kematian tidak bertanya apakah kita sudah selesai dengan urusan dunia. Ia datang ketika waktunya tiba.
Jangan menunggu kematian untuk menyadari arti kehidupan.
Hiduplah dengan rendah hati, tinggalkan jejak kebaikan, dan pulanglah dengan membawa bekal.
pikiranyayat.com
