Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Benarkah, Hidup Kita Dirancang untuk Mager?


 

Benarkah, Hidup Kita Memang Dirancang untuk Mager?

Oleh Yayat Suyatna

Tekan tombol untuk mendengarkan.

Pagi hari kita duduk di kendaraan. Sampai di kantor, kita duduk di depan layar. Makan siang bisa dipesan tanpa berjalan. Pulang ke rumah, tubuh terasa lelah, lalu kita duduk lagi sambil menatap layar yang lain.

Anehnya, seharian kita merasa sibuk. Namun, ketika dihitung, tubuh kita hampir tidak bergerak.

Benarkah hidup kita dirancang untuk mager?

Mungkin tidak ada seseorang yang sengaja merancang hidup kita demikian. Tetapi banyak kemudahan modern membuat gerak semakin jarang diperlukan. Kita bisa bekerja, berbelanja, bertemu, dan mencari hiburan tanpa beranjak jauh dari kursi. Bahkan untuk naik satu lantai, tangan kita lebih cepat mencari tombol lift daripada tangga.

Kemudahan tentu bukan musuh. Ia menghemat waktu dan tenaga. Masalahnya muncul ketika tenaga yang dihemat tidak pernah kita gunakan lagi. Hari-hari menjadi penuh kegiatan, tetapi miskin gerakan.

Lalu kita menyalahkan diri sendiri: Saya memang malas.

Padahal, keinginan untuk bergerak juga dipengaruhi keadaan. Setelah perjalanan panjang, pekerjaan yang menumpuk, dan tidur yang kurang, ajakan berolahraga bisa terdengar seperti satu tugas tambahan. Apalagi jika jalan kaki terasa tidak aman atau ruang terbuka sulit dijangkau.

Karena itu, melawan mager tidak cukup dengan menyuruh orang “lebih disiplin”. Kita perlu membangun kebiasaan kecil sekaligus lingkungan yang memberi ruang untuk bergerak. Berjalan sebentar setelah duduk lama. Memilih tangga jika memungkinkan. Mengajak keluarga berjalan sore. Menyediakan waktu bergerak bersama di sekolah, kantor, dan lingkungan rumah.

Tidak harus langsung menjadi pelari. Tidak harus menunggu punya sepatu mahal. Tubuh kita tidak meminta kesempurnaan; ia meminta kesempatan untuk digunakan.

Barangkali pertanyaan pentingnya bukan, Mengapa kita begitu malas bergerak? Melainkan, Mengapa dalam hidup yang semakin mudah ini, bergerak justru harus diperjuangkan?

Jika keseharian kita membuat diam terasa paling mudah, mari pelan-pelan membuat gerak terasa wajar kembali. Sebab hidup memang perlu dimudahkan, tetapi tubuh tetap perlu diajak berjalan.