Hot Posts

6/recent/ticker-posts

ISS 2026 : Ketika Olahraga Menyentuh Kemanusiaan


 

Santunan Anak Yatim Piatu di ISS 2026: Ketika Olahraga Menyentuh Kemanusiaan

Oleh Yayat Suyatna

Indonesia Sports Summit atau ISS 2026 bukan hanya ruang berbicara tentang prestasi, industri, kebijakan, dan masa depan olahraga Indonesia. Ada satu bagian sederhana, tetapi justru menyentuh hati: santunan kepada anak-anak yatim piatu.

Di tengah gegap gempita sebuah summit, kegiatan ini mengingatkan kita bahwa kemajuan olahraga tidak boleh kehilangan wajah kemanusiaannya.

Santunan bukan sekadar memberikan sejumlah uang atau bingkisan. Di baliknya ada pesan bahwa anak-anak yang kehilangan ayah, ibu, atau keduanya tetap harus merasakan bahwa mereka tidak sendiri. Masih ada tangan yang menggandeng, masih ada masyarakat yang peduli, dan masih ada harapan yang menunggu mereka di masa depan.

Dalam Islam, memuliakan anak yatim memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Rasulullah bersabda:

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini.” Beliau kemudian mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Pesannya begitu dalam. Kepedulian kepada anak yatim bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi juga jalan menuju kemuliaan.

Ada hikmah lain dari santunan di ISS 2026. Olahraga sejatinya mengajarkan solidaritas. Dalam pertandingan, kita belajar kebersamaan, saling membantu, menghormati, dan tidak meninggalkan yang lemah. Nilai itu seharusnya tidak berhenti di lapangan, tetapi hadir dalam kehidupan sosial.

Karena itu, santunan anak yatim dalam ISS 2026 seolah ingin berkata:

Prestasi olahraga memang penting, tetapi kepedulian kepada sesama jauh lebih menentukan nilai kemanusiaan kita.

Barangkali suatu hari anak-anak yang hari ini menerima santunan akan tumbuh menjadi atlet, pelatih, dokter olahraga, pengusaha, pemimpin, atau sekadar manusia baik yang kembali menolong orang lain.

Sebab kebaikan mempunyai cara sendiri untuk tumbuh.

ISS 2026 pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana Indonesia menjadi bangsa yang lebih kuat melalui olahraga, tetapi juga bagaimana kita membangun bangsa yang lebih peduli, lebih berbagi, dan lebih manusiawi.

Karena olahraga terbaik bukan hanya membuat tubuh menjadi kuat.

Olahraga juga seharusnya membuat hati semakin peka.

pikiranyayat.com — Tidak menggurui, tapi menemani. Tidak sekadar dibaca, tapi dirasakan.