Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Kenapa Rasa Empati Kita Makin Pudar


 

Belajar dari Kasus yang Sedang Viral: Kenapa Rasa Empati Kita Makin Menipis?
Refleksi Kehidupan

Belajar dari Kasus yang Sedang Viral: Kenapa Rasa Empati Kita Makin Menipis?

Oleh Yayat Suyatna
🔊 Dengarkan tulisan ini
Tekan "Dengarkan" untuk mulai membaca.

Belakangan ini kita kembali dikejutkan oleh sebuah kasus yang viral. Seorang yang sedang berada dalam kesulitan justru mendapatkan komentar yang terasa jauh dari rasa Empati.

Kita mungkin bisa berdebat tentang siapa yang salah. Kita bisa membahas aturan, prosedur, kronologi, bahkan mencari siapa yang paling bertanggung jawab.

Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting: Mengapa ketika seseorang sedang susah, kita semakin mudah menghakimi daripada memahami?

Dulu, melihat orang sakit kita spontan mendoakan. Melihat orang kesusahan kita ingin membantu. Melihat orang menangis, hati kita ikut tersentuh.

Sekarang kadang berbeda.

Belum tahu cerita lengkapnya, kita sudah berkomentar. Belum merasakan penderitaannya, kita sudah menyalahkan. Bahkan kesusahan orang lain kadang berubah menjadi bahan candaan dan konten.

Mungkin bukan karena manusia sekarang lebih jahat.

Kita hanya terlalu sering melihat penderitaan melalui layar.

Setiap hari ada berita kecelakaan, kemiskinan, sakit, konflik dan kematian. Semuanya muncul bergantian di layar telepon. Lama-kelamaan hati mengalami semacam kelelahan.

Kita melihat banyak, tetapi semakin sedikit merasakan.

Media sosial juga membuat kita mudah berbicara tanpa melihat wajah orang yang sedang kita bicarakan. Padahal kalau orang itu duduk di depan kita, dengan wajah lelah, tubuh sakit, atau mata yang penuh kekhawatiran, mungkin kata-kata kita akan berbeda.

Jarak digital terkadang membuat hati kehilangan rem.

Padahal kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh perjuangan seseorang.

Orang yang terlihat mengeluh mungkin sudah lama bertahan. Orang yang marah mungkin sedang ketakutan. Orang yang menulis kegelisahannya mungkin sedang berada pada titik paling rapuh dalam hidupnya.

Karena itu, sebelum berkomentar, mungkin kita perlu belajar sebuah kebiasaan sederhana: bayangkan kita berada di posisinya.

Bagaimana jika yang kesulitan mendapatkan pertolongan itu orang tua kita? Bagaimana jika yang sedang sakit itu pasangan kita? Bagaimana jika yang sedang meminta pertolongan itu anak kita sendiri?

Barangkali jari kita akan lebih berhati-hati mengetik.

Ilmu membuat manusia pintar. Jabatan membuat manusia dihormati. Profesi membuat manusia memiliki keahlian. Tetapi empati membuat manusia tetap menjadi manusia.

Kita memang tidak harus selalu setuju dengan keluhan seseorang. Kita juga tidak wajib membenarkan semua tindakannya. Tetapi berbeda pendapat tidak mengharuskan kita kehilangan belas kasih.

Ada saatnya seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang.

Ia hanya membutuhkan kalimat sederhana: Semoga dimudahkan.

Atau bahkan cukup diam daripada mengucapkan sesuatu yang menambah luka.

Kasus yang sedang viral ini seharusnya tidak hanya menghasilkan kemarahan baru. Jangan sampai kita mengkritik orang yang dianggap tidak berempati dengan cara yang sama tidak berempatinya.

Jadikanlah ia cermin.

Barangkali dunia tidak sedang kekurangan orang pintar.

Dunia sedang kekurangan orang yang masih mampu merasakan kesulitan orang lain.

Karena pada akhirnya, kualitas kemanusiaan kita bukan hanya terlihat dari bagaimana kita memperlakukan orang yang sedang berjaya.

Ia terlihat dari bagaimana kita memperlakukan manusia ketika sedang berada pada titik terlemahnya.

Mari menjaga sedikit ruang di dalam hati untuk memahami sebelum menghakimi, mendengar sebelum menyimpulkan, dan menolong sebelum menyalahkan.

Sebab ketika rasa simpati dan empati hilang, yang perlahan hilang sesungguhnya bukan sekadar sopan santun.

Yang hilang adalah sebagian dari kemanusiaan kita.

pikiranyayat.com
Tidak menggurui, tapi menemani. Tidak sekadar dibaca, tapi dirasakan.