Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Merasa Pintar vs Pintar Merasa

Merasa Pintar vs Pintar Merasa

Merasa Pintar vs Pintar Merasa

Oleh Yayat Suyatna

Ada dua jenis manusia yang sering kita temui dalam hidup: orang yang merasa pintar, dan orang yang pintar merasa.

Yang pertama sibuk menunjukkan bahwa dirinya tahu. Yang kedua diam-diam belajar memahami.

Orang yang merasa pintar biasanya cepat bicara, cepat menilai, dan kadang lupa mendengar. Baginya, pendapat sendiri adalah yang paling benar. Ia ingin terlihat hebat, meski sering kali lupa bahwa ilmu yang tidak disertai rendah hati justru bisa menjadi beban.

Sementara orang yang pintar merasa tidak selalu banyak bicara. Ia tahu kapan harus menyampaikan pendapat, kapan harus diam, kapan harus menahan diri, dan kapan harus memahami perasaan orang lain. Ia bukan hanya cerdas di kepala, tetapi juga lembut di hati.

Merasa pintar membuat seseorang mudah meremehkan.
Pintar merasa membuat seseorang mudah menghargai.

Merasa pintar sering melahirkan kesombongan.
Pintar merasa melahirkan kebijaksanaan.

Hidup ini tidak hanya membutuhkan orang-orang cerdas secara pikiran, tetapi juga orang-orang yang peka secara perasaan. Sebab banyak masalah bukan terjadi karena kurang ilmu, tetapi karena kurang rasa.

Orang pintar belum tentu bijak.
Tapi orang yang pintar merasa biasanya tahu cara menjadi manusia.

Maka, jangan hanya mengejar agar terlihat pintar. Belajarlah juga untuk pintar merasa: merasakan lelah orang lain, luka orang lain, perjuangan orang lain, dan diamnya orang lain.

Sebab pada akhirnya, yang membuat kita dikenang bukan hanya seberapa banyak yang kita tahu, tetapi seberapa dalam kita mampu memahami.

Jangan hanya merasa pintar, belajarlah pintar merasa. Sebab ilmu tanpa rasa hanya melahirkan kepala yang tinggi, bukan hati yang mengerti.