Baju Batikku : Bahasa Tanpa Kata
Wahai diriku yang sederhana, aku memilih mengenakan batik— bukan sekadar kain, tetapi cerita yang dijahit oleh waktu.
Di setiap garisnya, ada jejak tangan yang sabar. Di setiap coraknya, ada makna yang tak selalu terucap.
Batikku bukan tentang gaya, ia adalah tentang rasa. Tentang siapa aku, dan dari mana aku berasal.
Namun sering kali, aku melihat orang malu memakainya. Lebih bangga pada yang datang dari jauh, dan ragu pada yang lahir dari tanah sendiri.
Padahal batik tidak pernah meminta untuk dipuji, ia hanya ingin dikenakan dengan kesadaran.
Bahwa ia bukan sekadar pakaian, melainkan identitas yang hidup.
Wahai manusia, mengapa engkau mencari jati diri ke luar, padahal ia telah melekat di tubuhmu sendiri?
Baju batik ini mengajarkanku, bahwa sederhana tidak berarti rendah.
Bahwa yang lokal tidak kalah bermakna.
Dan bahwa menghargai warisan adalah bentuk cinta yang paling dalam.
Ketika aku mengenakannya, aku tidak sedang mengikuti tren— aku sedang menghormati perjalanan.
Perjalanan para tangan yang membatik, para jiwa yang menjaga, dan sejarah yang tidak ingin dilupakan.
Wahai diriku, jangan pernah malu menjadi apa adanya.
Karena di balik kesederhanaan itu, tersimpan kekuatan yang sering diabaikan.
Dan jika suatu hari dunia bertanya siapa aku— biarlah batikku yang menjawab, tanpa banyak kata.
Bahwa aku berdiri, dengan bangga… menjadi diriku sendiri.
