Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Agustusan : Bulan Olahraga Tradisional dan Budaya


 

Catatan Kemerdekaan: Bulan Agustus, Bulan Olahraga Tradisional dan Budaya
◆ ◆ ◆
Catatan Kemerdekaan

Catatan Kemerdekaan: Bulan Agustus, Bulan Olahraga Tradisional dan Budaya

Oleh Yayat Suyatna
Tekan “Dengarkan” untuk mendengarkan artikel

Setiap memasuki bulan Agustus, suasana kampung dan lingkungan masyarakat terasa berbeda. Bendera merah putih berkibar, gapura dihias, jalan-jalan menjadi semarak, dan lapangan kembali ramai oleh berbagai perlombaan.

Ada balap karung, tarik tambang, bakiak, egrang, gobak sodor, panjat pinang, hingga permainan sederhana yang mungkin sepanjang tahun hampir tidak pernah kita lihat.

Mengapa justru bulan Agustus?

Karena Agustus bukan hanya bulan mengenang kemerdekaan. Agustus juga menjadi ruang perjumpaan antara olahraga, budaya, kegembiraan, dan kebersamaan masyarakat.

Olahraga tradisional memiliki sesuatu yang kadang hilang dalam olahraga modern: kedekatan sosial.

Tarik tambang mengajarkan bahwa kekuatan tidak cukup dimiliki seorang diri. Kita harus bergerak bersama.

Bakiak mengajarkan keselarasan langkah. Satu orang berjalan terlalu cepat, seluruh kelompok bisa jatuh.

Egrang mengajarkan keseimbangan dan keberanian.

Gobak sodor mengajarkan kelincahan, strategi, kerja sama, dan ketangkasan.

Sementara panjat pinang seperti menggambarkan perjalanan sebuah bangsa. Untuk mencapai puncak, seseorang membutuhkan pundak orang lain. Ada yang menopang, ada yang mendorong, ada yang naik, dan pada akhirnya kegembiraan dinikmati bersama.

Itulah sebabnya olahraga tradisional sebenarnya bukan sekadar permainan.

Di dalamnya tersimpan nilai gotong royong, keberanian, sportivitas, kreativitas, persaudaraan, dan kegembiraan.

Nilai-nilai yang sangat dekat dengan jiwa kemerdekaan Indonesia.

Sayangnya, setelah Agustus berlalu, banyak permainan itu kembali menghilang. Lapangan kembali sepi dari egrang, bakiak, gobak sodor, ataupun permainan tradisional lainnya.

Padahal semestinya semangat itu tidak berhenti pada perayaan 17 Agustus.

Olahraga tradisional perlu kembali hadir di sekolah, desa, kelurahan, ruang publik, Car Free Day, festival daerah, hingga kegiatan olahraga masyarakat. Bukan sekadar untuk melestarikan permainan lama, tetapi untuk membuat masyarakat lebih aktif bergerak sekaligus lebih dekat dengan akar budayanya.

Kemerdekaan bukan hanya mengenang perjuangan masa lalu.

Kemerdekaan juga berarti menjaga apa yang diwariskan oleh bangsa ini kepada generasi berikutnya.

Maka ketika anak-anak berlari membawa bakiak, ketika warga tertawa dalam balap karung, atau ketika satu kampung bersorak menyaksikan tarik tambang, sesungguhnya ada sesuatu yang sedang dirawat: kebersamaan sebagai bangsa.

Agustus mengingatkan kita bahwa olahraga tidak selalu membutuhkan stadion megah dan peralatan mahal.

Kadang cukup sebilah bambu, seutas tambang, beberapa karung, sebuah lapangan kecil, dan orang-orang yang mau bergembira bersama.

Karena boleh jadi, di situlah wajah olahraga Indonesia yang paling asli berada.

Mari jadikan Agustus bukan hanya Bulan Kemerdekaan, tetapi juga momentum kebangkitan olahraga tradisional dan budaya Indonesia.
Bergerak badannya, gembira hatinya, lestari budayanya, kuat bangsanya.
pikiranyayat.com