Waktu : Harta yang Ketika Hilang Tidak Bisa Dibeli Kembali
Oleh: Yayat Suyatna
Ada satu hal yang diberikan sama rata kepada setiap manusia: waktu.
Orang kaya memiliki 24 jam sehari. Orang sederhana juga 24 jam. Pejabat, petani, guru, pedagang, bahkan pengangguran, semuanya menerima jatah yang sama. Yang membedakan hanyalah bagaimana mereka menggunakannya.
Anehnya, kita sering merasa kekurangan uang, padahal yang sebenarnya sering kita buang adalah waktu. Berjam-jam kita habiskan untuk hal yang tidak penting, lalu mengeluh hidup tidak mengalami perubahan.
Padahal, hidup ini sesungguhnya hanyalah kumpulan dari waktu-waktu kecil yang kita jalani setiap hari.
Hari ini menjadi minggu depan. Minggu depan menjadi bulan depan. Bulan depan menjadi tahun depan. Lalu tanpa terasa, usia kita bertambah, rambut mulai memutih, dan kita bertanya, "Ke mana perginya waktu?"
Waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Ia berjalan tanpa peduli apakah kita sedang siap atau tidak. Ia terus bergerak, membawa kesempatan yang mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.
Mungkin karena itulah orang bijak mengatakan bahwa penyesalan terbesar bukan karena gagal, melainkan karena tidak pernah mencoba ketika kesempatan itu masih ada.
Luangkan waktu untuk keluarga, sebelum anak-anak tumbuh dan memiliki dunianya sendiri. Sisihkan waktu untuk orang tua, sebelum yang tersisa hanya kenangan dan doa. Berikan waktu dengan sungguh-sungguh untuk belajar, bekerja, ibadah, dan berbuat baik kepada sesama.
Karena pada akhirnya, yang akan dikenang orang bukan seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, tetapi seberapa banyak waktu yang kita gunakan untuk memberi arti bagi kehidupan orang lain.
Hidup bukan tentang siapa yang paling lama hidup. Hidup adalah tentang siapa yang paling bijak mengisi waktu yang telah dititipkan.
Sebab waktu adalah satu-satunya harta yang ketika hilang, tidak akan pernah bisa dibeli kembali.
Jangan menunggu hari yang baik untuk memulai. Jadikan hari ini baik dengan apa yang kita lakukan.
pikiranyayat.com
