Rejeki Seekor Burung Kecil
Di ujung pagi yang masih basah oleh embun, seekor burung kecil membuka matanya. Tidak ada lumbung yang ia miliki. Tidak ada simpanan yang ia hitung. Hanya ada langit luas dan keberanian untuk terbang.
Ia tidak tahu di mana rejekinya hari ini.
Namun ia tetap berangkat.
Dengan sayap yang sederhana, ia menembus angin. Hinggap di ranting-ranting yang kadang rapuh. Menyusuri ladang, pepohonan, dan sudut-sudut kehidupan yang sunyi. Kadang ia menemukan sebutir biji. Kadang ia hanya menemukan harapan yang tertunda.
Tetapi ia tidak pernah berhenti.
Burung kecil itu tidak mengeluh pada langit. Ia tidak bertanya mengapa hidupnya tidak semudah yang lain. Ia hanya terus terbang, karena ia tahu bahwa diam bukanlah jalan menuju rejeki.
Dari burung kecil itu, kita belajar satu hal sederhana yang sering kita lupakan.
Bahwa rejeki bukan tentang seberapa besar yang kita miliki, tetapi tentang seberapa berani kita mencarinya.
Kita sering ingin kepastian sebelum melangkah. Kita ingin jaminan sebelum mencoba. Kita ingin hasil sebelum berproses. Padahal hidup tidak bekerja seperti itu.
Burung kecil itu tidak pernah menunggu langit menjatuhkan makanan ke paruhnya. Ia bergerak. Ia mencoba. Ia gagal. Lalu ia mencoba lagi.
Dan dari proses itulah, rejekinya datang.
Maka jika hari ini terasa berat, ingatlah burung kecil itu. Ia tidak pernah tahu hari esoknya seperti apa, tetapi ia tetap bangun dan terbang.
Jangan takut memulai, meski kecil. Jangan ragu melangkah, meski pelan. Sebab setiap usaha adalah jalan pulang bagi rejeki yang sedang mencari kita.
Terbanglah, walau rendah. Bergeraklah, walau perlahan.
Karena Tuhan tidak pernah salah dalam membagi rejeki. Yang sering salah hanyalah kita yang terlalu lama diam.
