Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Saya Mah Apa Atuh, Cuma Bubuk Rengginang


 

Saya Mah Apa Atuh, Cuma Bubuk Rengginang

Oleh: Yayat Suyatna

Ada kalanya hidup membuat kita merasa kecil.

Bukan karena kita benar-benar tak berharga, tetapi karena terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain yang tampak lebih utuh, lebih hebat, dan lebih dipuji.

Lalu kita berkata dengan nada bercanda, “Saya mah apa atuh, cuma bubuk rengginang.”

Kalimat itu sederhana, lucu, dan merakyat.

Tapi di balik kelucuannya, kadang tersembunyi letih yang tidak sempat dijelaskan.

Tentang merasa tak dianggap, tentang hadir tapi nyaris tak terlihat, tentang ikut dalam hidup orang lain, tapi cuma jadi serpihan kecil di pinggir cerita.

Padahal, bukankah bubuk rengginang pun berasal dari sesuatu yang utuh?

Ia pernah melekat. Ia pernah menjadi bagian. Ia bukan sampah. Ia hanya sisa yang sering dilupakan orang, padahal tetap punya rasa.

Begitulah manusia. Kadang merasa dirinya cuma "bubuk", hanya karena dunia terlalu sibuk memandang yang bulat, yang utuh, dan yang cantik bentuknya.

Padahal tak semua yang kecil itu hina. Tak semua yang tercecer itu tak berguna.

Ada orang yang kehadirannya tidak banyak bicara, tetapi diamnya menenangkan.

Ada yang namanya tak pernah disebut di depan, tetapi doanya diam-diam menguatkan banyak orang.

Ada pula yang merasa dirinya biasa saja, padahal keberadaannya menjadi alasan orang lain bertahan.

Jangan terlalu cepat merendahkan diri sendiri hanya karena belum menjadi sesuatu yang besar di mata manusia.

Sebab sering kali yang dianggap remeh oleh dunia, justru bernilai di hadapan langit.

Kalau hari ini engkau merasa hanya bubuk rengginang, jangan sedih.

Bisa jadi, justru di situlah Tuhan sedang mengajarkanmu satu hal penting.

Bahwa nilai tidak selalu ditentukan oleh bentuk yang sempurna, tetapi oleh rasa yang tetap tinggal.

Dan bukankah hidup ini juga begitu?

Banyak orang tampil utuh, tapi hambar. Sementara ada yang merasa kecil, namun memberi makna.

Maka jangan malu jika hari ini engkau belum menjadi "rengginang" yang utuh.

Selama hatimu tetap punya rasa, selama langkahmu tetap membawa manfaat, engkau tidak pernah benar-benar remeh.

Karena kadang, yang paling diingat bukan yang paling besar, tetapi yang paling terasa.

pikiranyayat.com