Nikmat Mana Lagi yang Kau Dustakan?
Kalimat itu bukan sekadar tanya—ia adalah panggilan yang berulang dari langit, sebuah pertanyaan yang tidak menunggu jawaban, tetapi menuntut kesadaran.
Nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Ketika pagi masih setia datang, meski semalam kita penuh keluh. Ketika napas masih berjalan tanpa kita minta, dan jantung berdetak tanpa kita perintah.
Nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Saat tubuh masih mampu melangkah, meski perlahan. Saat mata masih bisa melihat cahaya, meski kadang basah oleh luka.
Kita sering sibuk menghitung apa yang belum kita miliki, hingga lupa mensyukuri apa yang sudah kita genggam.
Kita merasa kurang, padahal hidup kita penuh. Kita merasa kosong, padahal Tuhan tidak pernah berhenti memberi.
Nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Bahkan dalam ujian, tersimpan pelajaran. Dalam kehilangan, terselip penguatan.
Namun manusia sering menutup mata, bukan karena gelap, tetapi karena enggan melihat terang.
Wahai jiwa yang lelah mengeluh, cobalah diam sejenak…
Dengarkan detak hidupmu sendiri, rasakan udara yang masuk tanpa biaya, dan sadari bahwa banyak hal yang kamu anggap biasa, adalah nikmat yang luar biasa.
Berhentilah mendustakan, mulailah mensyukuri.
Karena satu nikmat yang kau sadari, akan membuka seribu ketenangan dalam hati. Dan satu keluhan yang kau pelihara, bisa menutup seribu pintu bahagia.
Maka hari ini, tanyakan pada dirimu sendiri: Nikmat mana lagi yang kau dustakan?
