Cinta Itu Sederhana, Tapi Kita yang Sering Membuatnya Rumit
Cinta itu sebenarnya tidak pernah meminta banyak. Ia tidak menuntut kesempurnaan, tidak juga memaksa untuk selalu dimengerti. Cinta hanya ingin hadir—tenang, apa adanya, dan saling menjaga.
Namun, entah sejak kapan, kita mulai menambahkan banyak hal ke dalamnya. Ekspektasi yang tinggi, ego yang diam-diam tumbuh, dan rasa ingin dimengerti tanpa mau belajar memahami.
Seperti kata Kahlil Gibran, cinta tidak pernah memiliki, dan tidak ingin dimiliki. Tapi kita justru sering menjadikannya sebagai sesuatu yang harus dikuasai.
Kita mulai menghitung siapa yang lebih perhatian, siapa yang lebih dulu mengalah, dan siapa yang lebih sering menghubungi. Padahal, cinta bukan soal siapa lebih banyak memberi, melainkan tentang bagaimana dua hati saling menjaga tanpa merasa terbebani.
Kita sering lupa, bahwa cinta tidak butuh pembuktian berlebihan. Ia cukup hidup dari kejujuran kecil, perhatian sederhana, dan niat yang tulus.
Cinta menjadi rumit ketika kita ingin selalu benar. Ketika kita lebih sibuk menang dalam perdebatan, daripada menjaga perasaan.
Cinta menjadi berat ketika kita menuntut tanpa memberi ruang. Ketika kita ingin dimengerti, tapi enggan mendengarkan.
Padahal, cinta yang sederhana adalah tentang menerima—bukan hanya kelebihan, tapi juga kekurangan yang tidak selalu bisa diubah.
Kadang, yang membuat cinta terasa melelahkan bukan karena kurangnya rasa, tapi karena terlalu banyak pikiran yang kita tambahkan ke dalamnya. Kita overthinking, kita berasumsi, kita menciptakan masalah dari hal yang sebenarnya tidak ada. Dan akhirnya, kita lelah oleh sesuatu yang seharusnya menenangkan.
Jika hari ini cintamu terasa rumit, mungkin bukan karena cintanya yang salah. Mungkin kita hanya perlu kembali ke awal—ke rasa yang dulu hadir tanpa banyak syarat, tanpa banyak hitungan, tanpa banyak kekhawatiran.
Karena pada akhirnya, cinta itu sederhana. Yang membuatnya rumit, sering kali adalah kita sendiri.
pikiranyayat.com
