Seorang ayah sering terlihat kuat,
bukan karena ia tidak lelah,
tetapi karena ia tidak terbiasa mengeluh.
Ia berjalan dengan tanggung jawab di pundaknya,
menyimpan lelah di dadanya,
dan menyembunyikan sakitnya
di balik kata: “tidak apa-apa.”
Seolah-olah…
seorang ayah tidak boleh sakit.
Karena dunia ini
terbiasa memberi ruang untuk ibu dan anak,
namun jarang bertanya:
bagaimana keadaan seorang ayah?
Wahai ayah,
engkau bukan tidak boleh sakit—
engkau hanya terlalu terbiasa kuat.
Engkau memilih diam
agar rumah tetap tenang.
Engkau menahan diri
agar semua tetap berjalan.
Namun ingatlah,
di balik kuatmu,
ada hati yang juga butuh dipahami.
Karena ayah pun manusia.
Bisa lelah.
Bisa jatuh.
Dan bisa… ingin didengar.
Jangan sampai suatu hari
yang terlihat baik-baik saja
ternyata sedang rapuh sendirian.
Dan kepada kita semua,
jangan hanya mencari ayah
saat kita butuh sandaran.
Sesekali,
jadilah sandaran itu untuknya.
Karena mungkin,
di balik diamnya selama ini,
ada banyak hal
yang ia tahan demi kita.
pikiranyayat.com
tidak menggurui, tapi menemani