Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Belajar Ikhlas Walau Pasti Tidak Mudah


 

Ikhlas Itu Harus Seperti Surat Al-Ikhlas

Ikhlas Itu Harus Seperti Surat Al-Ikhlas, yang Tidak Ada Kata Ikhlasnya

Oleh: Yayat Suyatna

Ada hal-hal yang justru paling dalam, ketika tidak banyak disebutkan.

Seperti Surat Al-Ikhlas—ia tidak pernah menyebut kata “ikhlas”, namun seluruh isinya adalah tentang kemurnian yang tidak tersisa.

Ia tidak berkata, “Aku tulus.” Ia tidak berkata, “Lihatlah kesucianku.” Ia hanya menyatakan kebenaran dengan tenang, tanpa perlu pengakuan.

Begitulah seharusnya ikhlas.

Hari ini, kita sering mendengar: “Aku sudah ikhlas…” Diucapkan dengan nada yang ingin didengar, dengan harapan dipahami, bahkan kadang ingin dipuji karena sudah lapang.

Padahal, ikhlas yang masih sibuk dijelaskan, sering kali belum benar-benar selesai di dalam dada.

Ikhlas itu bukan kalimat. Ia adalah keadaan.

Ia tidak lahir dari kata-kata, tetapi dari hati yang sudah tidak lagi menuntut balasan.

Ikhlas tidak meminta dimengerti. Ia juga tidak kecewa ketika tidak dihargai. Ia berjalan pelan, tapi pasti, tanpa suara, tanpa pengumuman.

Seperti Surat Al-Ikhlas—yang tidak menyebut dirinya “ikhlas”, namun menjadi inti dari kemurnian itu sendiri.

Maka belajarlah diam dalam berbuat. Kurangi menjelaskan tentang kebaikanmu. Biarkan amal itu berbicara sendiri kepada Tuhan.

Karena yang benar-benar sampai, bukan yang paling banyak dikatakan, tetapi yang paling bersih dari harapan manusia.

Ikhlas itu sunyi, tapi kuat. Tidak terlihat, tapi menenangkan. Tidak diucapkan, tapi menghidupkan.

Dan mungkin, ikhlas terbaik dalam hidup kita adalah yang tidak pernah kita umumkan kepada siapa pun—kecuali kepada Allah yang sudah lebih dulu mengetahuinya.