Tarawih Terakhir
Ada yang berbeda pada tarawih malam ini. Lebih pelan, lebih sadar, seolah hati tahu: ini mungkin perjumpaan terakhir—bukan hanya dengan Ramadhan tahun ini, tapi dengan versi diri yang sempat lebih jujur, lebih lembut, lebih dekat pada Tuhan.
Di rakaat-rakaat yang kita lalui, sebenarnya kita tidak sedang menghitung ibadah. Kita sedang menimbang rindu. Setiap sujud adalah pengakuan: bahwa kita lemah, bahwa kita butuh, bahwa kita ingin pulang—meski sering tersesat.
Tarawih terakhir bukan tentang penutup, tapi tentang pertanyaan: setelah ini, apakah kita masih akan mencari-Nya seperti di bulan ini? Atau kita kembali sibuk, lupa bahwa pernah ada malam-malam yang begitu khusyuk?
Malam ini, jangan sekadar berdiri—hadirlah. Karena bisa jadi,
yang kita tinggalkan bukan hanya Ramadhan…
tapi kesempatan menjadi lebih baik yang tidak selalu datang dua kali.
(pikiranyayat.com)
