bukan ketika anak gagal.
Tapi ketika anak yang dulu memanggil kita dengan tangis,
kini menjawab kita dengan nada tinggi.
Kita merasa tidak dihargai.
Padahal mungkin ia hanya sedang belajar menjadi dirinya sendiri.
Jangan buru-buru marah.
Di balik suaranya yang keras,
ada hati yang masih butuh tempat pulang.
Jangan sampai kita menang karena kuasa,
tapi kehilangan karena ego.
Anak bisa melawan aturan kita,
tapi jangan sampai ia merasa tidak lagi aman di rumahnya sendiri.
Karena suatu hari nanti,
yang ia ingat bukan kerasnya teguran,
tetapi hangatnya pelukan.
(YS)
