Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Pelajaran Hidup dari Anak Jalanan


 

Di Jembatan Itu, Ada Anak yang Sedang Menunggu Masa Depan

Oleh: Setyoningtyas Mahayu Westri dan Yayat Suyatna

Di atas jembatan penyebrangan itu, seorang anak kecil tertidur pulas.
Kaos oblongnya lusuh.
Botol kecerekan di sampingnya menjadi saksi bahwa semalam ia berjalan dari lampu merah ke lampu merah, mengetuk kaca mobil, menyanyikan lagu yang bahkan mungkin ia belum mengerti maknanya.

Sementara kota tetap sibuk.
Motor berlalu.
Orang-orang berangkat kerja.
Dan dunia seperti sudah terlalu terbiasa melihat pemandangan itu.

Lalu pertanyaannya muncul perlahan: siapa yang harus bertanggung jawab?

Apakah orang tuanya? Mungkin iya.
Karena setiap anak lahir dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman.

Apakah pemerintah? Tentu juga iya.
Karena negara tidak boleh kalah cepat dari kemiskinan.

Apakah masyarakat? Barangkali iya.
Karena terlalu banyak mata yang melihat, tapi sedikit hati yang benar-benar peduli.

Namun kadang masalahnya lebih dalam dari sekadar mencari siapa yang salah.
Anak itu mungkin tidak sedang memilih jalan hidupnya.
Ia hanya sedang bertahan hidup.

Ada rumah yang kalah oleh biaya hidup.
Ada ayah yang kalah oleh keadaan.
Ada ibu yang kalah oleh kebutuhan dapur.
Dan ada lingkungan yang perlahan kehilangan rasa malu ketika anak-anak mulai akrab dengan jalanan.

Yang paling menyedihkan bukan saat seorang anak mengamen.
Tetapi saat masyarakat mulai menganggap itu biasa.
Padahal di usia seperti itu, seharusnya tangannya memegang pensil, bukan botol kecerekan.
Matanya menghafal cita-cita, bukan menghafal lampu merah mana yang paling ramai.

Mungkin kita memang tidak bisa menyelamatkan semua anak jalanan sekaligus.
Namun setidaknya jangan sampai hati kita ikut menjadi jalanan: keras, dingin, dan terbiasa membiarkan.

Karena setiap anak yang tertidur di jembatan penyebrangan, sesungguhnya sedang membangunkan nurani kita semua.