Dialog Dengan Tukang Cukur
Di sebuah ruang kecil, di antara cermin dan suara gunting yang berirama, terjadi percakapan sederhana yang menyentuh sesuatu yang tidak sederhana.
“Pak,” kata tukang cukur itu pelan, “saya rasa Tuhan itu tidak ada.”
Kalimat itu tidak keras, tetapi cukup untuk menggoyahkan suasana.
Seorang lelaki yang duduk di kursi hanya tersenyum, bukan karena setuju, tetapi karena ia tahu—tidak semua keraguan harus dilawan dengan suara yang lebih keras.
“Kenapa kamu berpikir begitu?” tanyanya lembut.
Tukang cukur menghela napas, lalu berkata, “Kalau Tuhan itu ada, mengapa masih banyak orang menderita? Mengapa ada yang kelaparan, ada yang sakit, ada yang hidupnya seperti tidak pernah disentuh kebahagiaan?”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Kalau Tuhan benar ada, harusnya dunia ini lebih baik.”
Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya diam, seperti seseorang yang sedang menunggu waktu untuk menjawab dengan cara yang tepat.
Setelah selesai dicukur, ia membayar, lalu pergi.
Namun di luar sana, ia melihat seseorang dengan rambut panjang kusut, jenggot tidak terurus, dan wajah yang seolah lelah oleh hidup.
Ia tersenyum kecil, lalu kembali masuk.
“Saya rasa tukang cukur itu tidak ada,” katanya.
Tukang cukur terkejut. “Apa maksudnya? Saya ini tukang cukur.”
Lelaki itu menatapnya tenang. “Kalau tukang cukur itu ada, mengapa masih ada orang di luar sana yang rambutnya tidak terurus?”
Tukang cukur tertawa kecil. “Itu karena mereka tidak datang kepada saya.”
Lelaki itu mengangguk. “Nah… begitu juga dengan Tuhan.”
Suasana mendadak hening.
“Tuhan itu ada,” lanjutnya pelan, “tetapi banyak manusia yang tidak datang kepada-Nya. Tidak berdoa, tidak mencari, tidak mau mendekat.”
Ia menatap cermin, seolah berbicara bukan hanya kepada tukang cukur, tetapi kepada dirinya sendiri.
“Bukan Tuhan yang menjauh, kitalah yang terlalu sibuk menjauh. Bukan cahaya-Nya yang redup, tetapi hati kita yang tertutup.”
Tukang cukur itu terdiam. Bukan karena kalah berdebat, tetapi karena mulai memahami.
Dan lelaki itu pun tersenyum, lalu melangkah pergi—meninggalkan sebuah pertanyaan yang mungkin akan terus hidup di dalam hati yang sedang belajar untuk kembali.
