Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Ada Pelajaran di Jembatan Sewo


 

Gadis Kecil di Sasak Sewo, Indramayu - Pikiranyayat.com

Gadis Kecil di Sasak Sewo, Indramayu

Oleh: Yayat Suyatna

Di atas Sasak Sewo, jembatan panjang yang menggantungkan harap di antara angin dan debu perjalanan, ada seorang gadis kecil yang berdiri setiap hari.

Tangannya kecil, namun terulur pada setiap kendaraan yang melintas.

“Pak… Bu… uangnya…” ucapnya lirih, hampir kalah oleh suara mesin dan klakson.

Sebagian melempar recehan. Sebagian pura-pura tak melihat. Sebagian lagi menggeleng, seolah hidup gadis itu bukan bagian dari dunia mereka.

Koin-koin itu jatuh—kadang ke tangannya, kadang ke jalanan, dan kadang… ke harga dirinya.

Namun ia tetap menunduk, memungutnya satu per satu.

Bukan karena ia tidak punya pilihan, tetapi karena hidup telah mengajarinya untuk bertahan… sebelum mengerti arti memilih.

Suatu hari, seorang lelaki berhenti.

Ia tidak melempar uang. Ia turun, mendekat, dan menatap gadis kecil itu.

“Kenapa kamu di sini?” tanyanya.

Gadis itu diam sejenak, lalu menjawab dengan polos, “Karena di sini… orang masih mau memberi.”

Lelaki itu terdiam. Bukan karena tidak punya jawaban, tetapi karena merasa… ditanya balik oleh kehidupan.

“Kalau kamu besar nanti, mau jadi apa?” tanyanya lagi.

Gadis itu menatap jauh, melewati kendaraan, melewati jembatan, seolah melihat sesuatu yang tak terlihat.

“Aku ingin jadi orang… yang tidak perlu berdiri di sini lagi.”

Angin sore berhembus, membawa suara yang tak terdengar, namun terasa dalam.

Bahwa kemiskinan bukan hanya soal uang, tetapi tentang kesempatan yang tidak pernah datang dengan adil.

Dan bahwa di balik tangan kecil yang meminta, ada mimpi besar yang diam-diam berusaha hidup.

Sasak Sewo tetap ramai. Kendaraan terus melintas. Koin terus dilempar.

Namun tidak semua orang sadar, bahwa yang jatuh ke bawah bukan hanya uang… tetapi juga rasa peduli yang sering kita simpan terlalu tinggi.

Dan gadis kecil itu, masih berdiri di sana.

Bukan sekadar meminta, tetapi mengingatkan—bahwa di dunia yang terus berlari, masih ada hati yang tertinggal dan menunggu untuk dipahami.

“Jangan hanya melempar uang, kadang yang lebih dibutuhkan adalah hati yang mau melihat.”
pikiranyayat.com