Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Catatan Akhir Ramadhan (4): Makna Dibalik Sahur Terakhir


Sahur Terakhir

🌙 Sahur Terakhir

Ada yang berbeda dari sahur terakhir.

Bukan pada makanannya, bukan pada waktunya—tetapi pada perasaannya.

Sahur terakhir sering datang dengan diam. Tidak seramai hari-hari pertama Ramadhan. Tidak seantusias pekan awal ketika niat masih menggebu.

Ia datang seperti tamu yang tahu… bahwa waktunya tidak akan lama lagi.

Di meja makan, mungkin masih ada nasi, air, dan lauk sederhana. Namun di hati, ada sesuatu yang berbeda: rasa kehilangan yang mulai terasa, bahkan sebelum benar-benar pergi.

Sahur terakhir adalah cermin. Ia memantulkan pertanyaan yang tidak bisa kita hindari:

Sudahkah Ramadhan mengubah kita? Atau kita hanya sekadar melewatinya? Sudahkah doa kita sungguh-sungguh? Atau hanya rutinitas tanpa rasa?

Di titik ini, kita tidak lagi bisa berpura-pura. Karena yang tersisa bukan waktu… tapi kejujuran hati.

Sahur terakhir juga adalah pengingat. Bahwa Ramadhan tidak selalu datang kembali.

Mungkin tahun depan kita masih dipertemukan. Tapi mungkin juga tidak.

Dan di situlah ia menjadi begitu berharga: karena bisa jadi ini adalah sahur terakhir… dalam hidup kita.

(pikiranyayat.com)